Kesehatan Jantung, Kesehatan Paru-Paru, Kesehatan Pencernaan, Gaya Hidup Sehat, Diet, Kecantikan, Pemutih Wajah, Otomotif, Sepeda Motor, Interior mobil, eksterior mobil, asesories otomotif, Smartphone, IOS,Asus Zenfone 4, Samsung galaxy J2, Evercoss A7V, Xiaomi Redmi 4, Sony Xperia Z2, assesories HP, laptop, printer, net book, notebook, Wisata Pantai, Wisata gunung, Matahari mall, TIRTO.ID, hosting,
Sabtu pagi, 28 Maret 1981, pukul 10. Sabtu 10 WIB, baru saja Kapten
Pilot Herman Rante yang menerbangkan Pesawat DC-9 Woyla milik maskapai Garuda Indonesia lepas landas dari Pelud Sipil Talang
Betutu, Palembang, Sumatera Selatan.
DC-9
Woyla berangkat dari Jakarta pada pukul 08.00 pagi, transit di Palembang,
dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55 WIB.
Di
dalam pesawat itu terdapat, 33 penumpang dari Jakarta dan 15 penumpang tambahan
dari Palembang saat transit. Jadi total 48 orang di dalamnya ditambah 5 kru
pesawat tersebut (2 kru kokpit dan 3 kru kabin).
Namun,
tiba-tiba dua penumpang bangkit dari tempat duduk mereka. Tanpa banyak bicara,
kedua orang itu langsung menjalankan tugasnya masing-masing.
Berbekal
senjata api jenis pistol revolver, salah satu orang itu langsung menuju ke
kokpit dan menodongkan senjata. Satunya lagi berdiri di gang antara tempat-duduk
penumpang pesawat.
“Jangan
bergerak, pesawat kami bajak,” teriak pria itu sambil menodongkan pistol ke
arah co-pilot Hedhy Juwantoro yang akan ikut menerbangkan pesawat menuju
Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara.
Tidak tanggung-tanggung,
dengan nada mengancam para pembajak itu, Kapten pilot Herman Rante untuk
menerbangkan pesawat bernomor penerbangan 206, berkode ekor PK-GNJ, rute
jurusan Jakarta – Medan itu ke ke Kolombo, Sri Lanka.
Tentu
saja permintaan tersebut tidak mungkin dipenuhi karena avtur yang terbatas.
“Pokoknya
terbang sejauh-jauhnya dari Indonesia,” teriak seorang pembajak yang belakangan
diketahui bernama Mahrizal.
Pesawat
akhirnya dialihkan menuju Penang, Malaysia, untuk pengisian bahan bakar. Lalu,
kembali terbang menuju ke Bandara Don Mueang, Thailand.
Saat
transit di Malaysia, para pembajak sempat menurunkan wanita lanjut usia bernama
Hulda Panjaitan (76) karena ia tak henti-hentinya menangis di dalam pesawat.
Pesawat
itu terbang lagi ke Thailand dan berhasil mendarat di Thailand karena ancaman
teroris.
Sesampainya
di negeri Gajah Putih itu, mereka kemudian membacakan tuntutan mereka, yaitu:
1. Anggota Komando Jihad di Indonesia yang berjumlah 80 orang
sebagai tahanan politik segera dibebaskan.
2. Meminta uang sejumlah 1,5 juta dolar Amerika.
3. Orang Israel dikeluarkan dari Indonesia.
4. Adam Malik dicopot sebagai Wakil Presiden.
2. Meminta uang sejumlah 1,5 juta dolar Amerika.
3. Orang Israel dikeluarkan dari Indonesia.
4. Adam Malik dicopot sebagai Wakil Presiden.
Apabila
tuntutan itu tidak segera dipenuhi, mereka mengancam telah memasang bom di
pesawat Woyla dan tidak segan untuk meledakkan diri bersama pesawat tersebut.
Mereka
juga meminta pesawat itu untuk pembebasan tahanan dan untuk terbang ke tujuan
yang dirahasiakan.
Drama
pembajakan pun tiba pada puncaknya saat transit di Bandara Don Mueang di
Bangkok, Muangthai tanggal 31 Maret 1981.
Pembajakan
Garuda DC-9 Woyla ini berlangsung selama empat hari. Dalam sejarahnya, ini kali
pertama Indonesia diserang oleh teroris yang bermotif ‘jihad’.
Pelakunya
lima orang teroris yang
dipimpin Imran bin Muhammad Zein, dan mengidentifikasi diri sebagai anggota
kelompok yang mengatasnamakan ‘Komando Jihad’ (KJ).
Dalam
sejarahnya, KJ adalah kelompok ekstremis Islam Indonesia yang pernah ditumpas
oleh anggota intelijen pada pertengahan tahun 1980-an. KJ sendiri diketahui
sudah ada sejak tahun 1968.
Imran
bin Muhammad Zein, pemimpin kelompok KJ yang melakukan peristiwa teror ini
menuntut agar para rekannya yang ditahan usai peristiwa Cicendo di Bandung,
Jawa Barat, supaya dibebaskan. Dalam peristiwa Cicendo, 14 anggota Komando
Jihad membunuh empat anggota polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dinihari.
Persiapan Operasi
“Being
hijacked, being
hijacked.”
Suara
itu terdengar dari alat komunikasi di pesawat Fokker-28 Garuda Indonesia nomor
penerbangan 145, jurusan Pekanbaru – Jakarta Baru yang dipiloti oleh A Sapari.
Sang
Kapten sadar, kalimat yang baru didengarnya itu adalah suara permintaan tolong
dari rekan pilot GA 206 yang sedang dibajak. Berita pertama pembajakan pun
tersebar pukul 10.18 WIB.
Tentu
saja, berita itu langsung ia teruskan ke Jakarta. Kabar itu langsung membuat
petinggi negara dan para jenderal yang sedang menggelar latihan gabungan semua
unsur pasukan tempur di Timor-Timur hingga Halmahera kaget.
Wakil
Panglima ABRI yang saat dijabat oleh Laksamana
Sudomo kaget mendengar berita nahas itu. Tanpa pikir panjang, rencana
penyelamatan sandera langsung dilakukan.
Kopassandha
(Komando Pasukan Sandi Yudha) embrio dari Kopassus langsung ditugaskan untuk
segera menggelar operasi penyelamatan.
Sudomo
langsung bergerak cepat menghubungi Kepala Pusat Intelijen Strategis yang saat
itu dijabat Benny Moerdani dan segera mengabarkan Asisten Operasi Kopasandha
LetKol Sintong Panjaitan yang pada saat itu kakinya masih dibalut gips.
Sebuah
pesawat DC-9 milik Garuda langsung dipinjam untuk dipelajari seluk beluknya.
Latihan 2 hari di hanggar Garuda, membuat pasukan khusus yang diisi tentara
terpilih ini yakin bisa menyelesaikan misi itu.
Apalagi
sudah dua tahun pasukan khusus antiteror terbentuk, mereka terus berlatih tapi
belum pernah punya kesempatan muncul. Namun yang lebih membanggakan mereka akan
bertempur di wilayah negara asing.
Dua
hari jelang operasi penyelamatan, Minggu 29 Maret 1981. Pasukan antiteror
Indonesia akhirnya diizinkan masuk oleh pemerintah Thailand. Benny yang
dikutip dalam buku biografinya, memutuskan menggunakan Garuda DC-10 Sumatera,
pesawat ini lebih cepat dan lebih lama terbang dari DC 9.
Hari
berikutnya, Senin 30 Maret 1981, dinihari, pukul 00.30, pesawat DC-10 yang
disamarkan seperti pesawat komersial milik Garuda, mendarat di Bandara Don
Muang.
Demi
keamanan dan kelancaran operasi pesawat pabrikan Amerika itu diparkir di lokasi
yang agak jauh dari Woyla. Namun, operasi kembali molor karena belum ada
kesepakatan antara Benny dengan Menteri luar negeri Thailand yang saat itu
dijabat Siddi Savitsila.
Keesokan
harinya, Senin 30 Maret 1981, pagi pukul 06.00, pemerintah Thailand masih tidak
bersedia memberi izin operasi itu. Benny lalu bertemu dengan Chief Station CIA untuk
Thailand. Izin operasi pun kemudian diberikan. Benny menetapkan, serbuan akan
dilakukan sebelum fajar.
Operasi
akan digelar sebelum fajar. Tak lupa Benny meminta petugas Garuda di Don
Muang menyiapkan 17 peti mati. Karena masih harus menunggu, Sintong
memerintahkan anak buahnya untuk tidur agar tidak semakin tegang.
Selasa
31 Maret 1981, dinihari, pukul 02.30 Waktu setempat, prajurit Kopassus yang
sudah tidur pulas mulai bergerak mendekati pesawat dengan senyap.
Salah Skenario
Mereka
membagi diri menjadi tiga tim, yakni Tim Merah, Tim Biru dan Tim Hijau. Sesuai
dengan simulasi latihan, kedua tim sudah langsung memanjat ke sayap pesawat dan
menunggu di pintu samping. Sementara Tim Hijau akan masuk lewat pintu belakang.
Berdasarkan
sumber data liputan6.com,
Sintong saat itu sangat terkejut, ketika tiba-tiba saja Benny menyusup masuk ke
dalam barisan. Ini jelas di luar skenario operasi yang sudah disiapkan dua hari
lalu.
Benny
terlihat jelas di tengah deretan pasukan berseragam. Dia memakai jaket hitam,
tangan kanannya memegang sepucuk pistol mitraliur.
Sambil
berbisik, Sintong memerintahkan anak buahnya yang jalan paling dekat. “Jangan
biarkan Pak Benny ikut.”. Namun anak buah Sintong tak berani menjalankan
perintah atasanya. “Pak, saya nggak berani,” jawab Letnan Suroso.
Tim
Thailand pun ikut bergerak ke landasan, tapi tidak sampai mendekat ke pesawat
hanya menunggu di landasan agar tidak ada teroris yang lolos jika melarikan
diri.
Sesuai
komando, kode untuk masuk diberikan, ketiga tim masuk, dengan Tim Hijau
terlebih dahulu. Mereka berpapasan dengan seorang teroris yang berjaga di pintu
belakang.
Serbuan
kilat pun langsung dimulai. Semua pintu kabin pesawat langsung didobrak dari
luar. Ketika berhasil mendobrak pintu dan masuk ke pesawat salah satu anggota
pasukan khusus itu langsung berteriak sekeras-kerasnya. “Penumpang Tiarap. “
Sekejap
kemudian bunyi tembakan riuh membangunkan seluruh isi pesawat. Namun, Nahas
Pembantu Letnan Achmad Kirang yang sudah telanjur masuk sebelum pintu depan
didobrak.
Otomatis
pembajak yang berjaga di bagian belakang langsung menembak Kirang yang tidak
dilindungi rompi antipeluru. Timah panas teroris pun menembus perut Kirang. Tak
berapa lama kemudian teroris tersebut kemudian ditembak dan tewas di tempat.
Para
penumpang kemudian disuruh keluar. Seorang teroris dengan granat tangan
tiba-tiba keluar dan mencoba melemparkannya tetapi gagal meledak. Lalu anggota
tim menembak dan melukainya sebelum dia sempat keluar.
Hukum Mati
Pimpinan
KJ, Imran bin Muhammad Zein selamat dalam peristiwa baku tembak tersebut
dan ditangkap oleh pasukan. Sementara, mayat pembajak lainnya, Machrizal,
Zulfikar, Wendy M Zein, Abu Sofyan dan Imronsayah, langsung diterbangkan ke
Jakarta pagi itu pula.
Namun
yang paling melegakan, seluruh penumpang tidak ada satu pun mengalami cedera
berarti.
Tim
medis kemudian datang untuk menyelamatkan pilot pesawat DC-9 Woyla, Kapten
Herman Rante, yang ditembak salah satu teroris dalam serangan.
Sementara
Achmad Kirang meninggal tanggal 1 April dalam perawatan di RS Bhumibhol,
Bangkok, begitu pula Captain Herman Rante, meninggal di Bangkok, enam hari
setelah operasi penyergapan berlangsung. Keduanya kemudian dimakamkan di TMP
Kalibata.
Operasi
kontra terorisme ini dilakukan oleh Grup-1 Para-Komando di bawah pimpinan
Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan. Publik menilai keberhasilan itu
melebihi keberhasilan pasukan khusus Israel dalam membebaskan sandera di
Entebbe Uganda.
Hasil
dari baktinya, ia beserta tim dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan
pangkatnya satu tingkat, kecuali Achmad Kirang yang gugur di dalam operasi
tersebut, dinaikkan pangkatnya dua tingkat secara anumerta.
Imran
bin Muhammad Zein selaku otak peristiwa pembajakan pesawat DC-9 ini kemudian
dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada tahun
1981.
Imran
merupakan salah seorang yang terlibat dalam Peristiwa Cicendo bersama Maman
Kusmayadi, Salman Hafidz, serta 11 orang lainnya.
Begitu
pula dengan Maman dan Salman, yang bernasib sama dengan Imran, dan
dieksekusi hukuman mati.
Pasca-operasi
itu, pasukan Kopasandha yang melakukan penyerbuan pesawat Woyla menjadi embrio
terbentuknya unit antiteror di Kopassus saat ini, yaitu SAT-81 Gultor.sumber:liputan6.com

