Kesehatan Jantung, Kesehatan Paru-Paru, Kesehatan Pencernaan, Gaya Hidup Sehat, Diet, Kecantikan, Pemutih Wajah, Otomotif, Sepeda Motor, Interior mobil, eksterior mobil, asesories otomotif, Smartphone, IOS,Asus Zenfone 4, Samsung galaxy J2, Evercoss A7V, Xiaomi Redmi 4, Sony Xperia Z2, assesories HP, laptop, printer, net book, notebook, Wisata Pantai, Wisata gunung, Matahari mall, TIRTO.ID, hosting,
Indonesia baru saja merdeka, Belanda ingkar janji. Suara bom pesawat Belanda mengagetkan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Anak buahnya mencoba menenangkan Sudirman, "Itu hanya anak-anak yang sedang latihan perang."
Sudirman baru saja kehilangan satu paru-parunya di meja operasi.
Rasa sakit masih menyiksa. Akan tetapi, instingnya sebagai ahli taktik perang
berkata, ada yang tidak beres. Sadar negara dalam keadaan genting, Sudirman
menemui Presiden Soekarno di Istana Gedung Agung, Yogyakarta.
Di hadapan Soekarno, Sudirman minta izin memulai gerilya untuk
menghancurkan mental Belanda. Kala itu, Soekarno melarang, "Kang Mas
sedang sakit, lebih baik tinggal di kota". Sudirman menyahut, "Yang
sakit Sudirman, Panglima Besar tidak pernah sakit."
Jawaban Sudirman sebelum memulai perang gerilya itu kini
dituliskan pada mural berlatar belakang bendera Merah Putih di Museum Pusat TNI
Angkatan Darat Dharma Wiratama. Menurut Kepala Seksi Pemandu dan Pameran Museum
Mayor Riko Sahani, bangunan museum ini dulunya merupakan markas besar Tentara
Keamanan Rakyat (TKR) saat perang kemerdekaan.
Keterbatasan fisik tak menyurutkan niat Sudirman memimpin perang
gerilya. Bertolak dari rumah dinasnya di kawasan Bintaran yang kini jadi Museum
Panglima Besar Jenderal Sudirman, satu kompi pasukan (80 tentara) dibawa. Demi
keamanan, keluarganya dititipkan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Lahir
Sesaat setelah merdeka, Indonesia yang baru lahir mendapat cobaan
bertubi-tubi. Pemberontakan pecah di mana-mana, tentara sekutu yang diboncengi
Belanda kembali menancapkan kuku penjajahannya. Di tengah kekacauan itulah,
rantai komando perang lahir dari Yogyakarta.
Berawal dari inisiatif Letnan Jenderal Urip Sumoharjo yang
melontarkan keprihatinan "alangkah lucunya negara tanpa tentara" maka
dibentuk TKR yang menjadi cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia.
Melalui konferensi besar TKR pada 12 November 1945, untuk pertama kalinya,
Indonesia memiliki pucuk pimpinan tertinggi angkatan perang.
Setelah mengusir tentara sekutu di Ambarawa pada Oktober 1945,
Kolonel Sudirman dilantik menjadi Pimpinan Tertinggi TKR, sedangkan Urip
Sumoharjo menjadi Kepala Staf Umum yang meletakkan dasar organisasi TNI.
Pelantikan dilaksanakan pada 18 Desember 1945.
Dari markas besar TKR di Yogyakarta, terpancar kesatuan komando ke
seluruh Tanah Air dalam mempertahankan kemerdekaan yang mulai terancam tentara
Belanda maupun pemberontakan dari dalam negeri. Perang di bawah rantai komando
Sudirman, antara lain, adalah perang atau palagan di Bandung yang dikenal
sebagai Bandung Lautan Api. Bandung dibumihanguskan saat melawan sekutu dan
Belanda November 1945-24 Maret 1946.
Perang lain di bawah komando markas besar TKR di Yogyakarta adalah
Palagan Surabaya di bawah pimpinan Bung Tomo yang kini diperingati sebagai Hari
Pahlawan 10 November. Beberapa kali pemberontakan mulai dari PKI Muso di
Madiun, DI/TII di Jawa Tengah, hingga RMS di Maluku berhasil dipadamkan.
Selama perang gerilya Desember 1948-10 Juli 1949, Sudirman juga
memegang rantai komando untuk serangan umum 1 Maret 1949 yang dipimpin Letnan
Kolonel Soeharto.
Melalui serangan umum, tentara berhasil menguasai kembali
Yogyakarta selama enam jam. Dunia menyaksikan, Indonesia masih ada dan PBB
mendesak Belanda membuka jalan perundingan melalui Konferensi Meja Bundar yang
berisi pengakuan terhadap kedaulatan Indonesia.
Meski tidak banyak meninggalkan catatan di wilayah yang dilintasi
seperti di Bantul, perjalanan gerilya Sudirman menjadi spirit tersendiri bagi
masyarakat. "Semangat dan kegigihannya tetap berjuang meski sakit
seharusnya terus diteladani," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Bantul Suyoto. (ENY/WKM)sumber:kompas.com

