Kesehatan Jantung, Kesehatan Paru-Paru, Kesehatan Pencernaan, Gaya Hidup Sehat, Diet, Kecantikan, Pemutih Wajah, Otomotif, Sepeda Motor, Interior mobil, eksterior mobil, asesories otomotif, Smartphone, IOS,Asus Zenfone 4, Samsung galaxy J2, Evercoss A7V, Xiaomi Redmi 4, Sony Xperia Z2, assesories HP, laptop, printer, net book, notebook, Wisata Pantai, Wisata gunung, Matahari mall, TIRTO.ID, hosting,
Ahad 19 Agustus beberapa tahun yang lalu, Front Pembela Islam (FPI) menyelenggarakan milad ke-9 di markasnya, Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri sekitar lima sampai enam ribu anggotanya, termasuk wakil FPI dari 25 provinsi.Di sepanjang Jl Jatipetamburan III (sekitar 300 meter) digelar permadani untuk para jamaah. Sedang di sebagian ruas Jl Jatipemburan Raya, depan RS Pelni, hanya dapat dilewati kendaraan satu jalur karena sebagian dipadati massa yang mengenakan busana putih dan peci putih.
Acara itu
dimulai shalat Subuh berjamaah. Diteruskan dzikir, tahlil dan ceramah maulid
Nabi Muhammad SAW yang berlangsung hingga pukul 09.30 pagi. Diakhiri dengan
pawai keliling Jakarta. Ketua Umum FPI Habib Rizieg Husein Shihab, ketika
melepas pawai, meminta agar mereka tertib dan sopan.Melihat begitu patuhnya
para anggota FPI kepada ketua umumnya, jadi teringat pada pemimpin Pandu Arab
Indonesia, Husein Shihab, ayah Habib Rizieq Shihab. Pada awal 1950-an, Husein
Shihab telah menghimpun para pemuda Arab untuk mengabdi pada bangsa melalui
bidang kepanduan. Dia lebih dikenal dengan sebutan hopman — kata Belanda untuk
pemimpin kepanduan.
Seperti juga
Habib Rizieq, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan memberikan
pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab Indonesia. Saya,
yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengbah abad lalu, membandingkan
penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan ribu massa FPI
— menurut Rizieq anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta orang.
Sangat jauh
berbeda dengan penampilan sang ayah yang sering memakai jas dan dasi, putranya
ini selalu mengenakan jubah dan sorban. ”Ayah saya memang modern dan orangnya
sangat berbaur,” kata Habib Rizieq, kelahiran Agustus 1965. Wajah Rizieq hampir
sama dengan wajah almarhum ayahnya.
Sekalipun cara
berpakaian dan berpikirnya modern, Husein Shihab sangat dekat dengan ulama
Betawi terkemuka, Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat. Pada
acara-acara seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dan menerima tamu asing, Habib Ali
selalu meminta Husein Shahab yang fasih berbahasa Belanda menjadi MC.
Acara-acara Pandu Arab yang dilakukan tiap Sabtu sore berlangsung di halaman
Madrasah Unwanul Falah di Kwitang. Madrasah yang dibangun oleh Habib Ali pada
1911 ini telah melahirkan sejumlah ulama Betawi.
Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi, Al Habib Ali bin
Abdurrahman AlHabsyi, Al Habib Ali bin Husein Al AthasHabib Rizieq
mengaku ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1966, dia baru berusia 11 bulan.
”Jadi saya mengenalnya hanya dari foto,” katanya.
Sang ayah
yang lahir tahun 1920-an, sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara, berkata
kepada seorang anggota keluarganya, ”Tanyakan kepada putra saya ini, kalau
sudah besar mau menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik agamanya
dengan baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.”
Sejak itu,
Rizieq dipindahkan ke Jatipetamburan dan terakhir lulus Riyadh University (kini
King Saud University) Arab Saudi. Kini dia tengah menyelesaikan tesis pada
University Malaya, Kuala Lumpur, untuk lulus S2 bidang Syariat.
Menurut
sejumlah teman almarhum Husein Shihab yang kini rata-rata berusia diatas 80
tahun, pemimpin Pandu Arab ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini Palang Merah
Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.
Husein, yang
ketika itu masih berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik. Di sini dia
punya hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Dia banyak memberikan makanan
dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di Jakarta dan
sekitarnya.
Rupanya pihak
NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada kawannya
sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA. Tanpa ampun
lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat dan ia diseret dengan
kendaraan jip.
Di penjara
dia divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah, Husein
berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Dia selamat, meskipun
bagian pantatnya tertembak. Dia sadar setelah sebelumnya mendapat pertolongan
dari KH Nur Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.
Suatu hari,
Rizieq memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno, Fatmawati, dalam
suatu upacara pada awal kemerdekaan. Dia menyatakan bangga, ayahnya punya
semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar para pemuda Arab melawan
Belanda melalui Pandu Arab Indonesia.
Ayah Husein
Shihab, Habib Muhammad Shihab, dahulu pernah memiliki ratusan delman dan
memiliki istal kuda di depan RS Pelni. Delman yang bertrayek Tanah Abang ke
Kebayoran Lama ini pernah diganggu oleh preman yang mengaku anak buah si
Pitung, jagoan Betawi yang dibenci Belanda.
Seperti
dituturkan Rizieg, kakeknya itu langsung menemui Pitung yang merasa tidak
senang namanya dicatut. Rupanya pertemuan itu malah membuat dua tokoh Betawi
tersebut menjadi akrab. Akhirnya, Habib Muhammad dikawinkan dengan ponakan
Pitung dari Koebon Nanas, Kebayoran Lama. Dari perkawinan ini lahirlah Husein
Shihab, ayah Rizieq.

