Kesehatan Jantung, Kesehatan Paru-Paru, Kesehatan Pencernaan, Gaya Hidup Sehat, Diet, Kecantikan, Pemutih Wajah, Otomotif, Sepeda Motor, Interior mobil, eksterior mobil, asesories otomotif, Smartphone, IOS,Asus Zenfone 4, Samsung galaxy J2, Evercoss A7V, Xiaomi Redmi 4, Sony Xperia Z2, assesories HP, laptop, printer, net book, notebook, Wisata Pantai, Wisata gunung, Matahari mall, TIRTO.ID, hosting,
Kisah ini bukan isapan jempol. Mantan Panglima
Kostrad Letjen Kemal Idris menyaksikannya sendiri. Begitu juga dengan perwira
Australia anggota Komisi Tiga Negara yang sedang bertugas di Indonesia.
Eksekusi mati terhadap terpidana mati ternyata tak hanya dilakukan saat ini saja, melainkan sejak Indonesia Merdeka, di masa-masa perjuangan 1945-1949. Jika sekarang eksekusi mati karena tindak pidana umum, maka di masa Perjuangan, tembak mati dilakukan untuk tahanan perang akibat pemberontakan ke Republik Indonesia.
Dalam eksekusi, biasanya korban akan langsung
meninggal di hadapan regu tembak. Tapi dalam beberapa kasus, ada juga yang
memiliki ilmu kebal peluru. Peluru tak mampu melukai kulit orang-orang yang
memiliki kesaktian.
Cerita ini terjadi sekitar tahun 1948. Saat
itu Kemal Idris masih berpangkat Mayor dan memimpin Pasukan Kala Hitam melawan
pemberontakan PKI Muso di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dia berhasil mengalahkan
pasukan PKI di Pati. Ada beberapa gembong PKI yang ditangkap.
Dalam sidang militer kilat yang dipimpin oleh
Kapten CPM Sabur, diputuskan ada empat gembong PKI yang dihukum mati. Eksekusi
dilakukan di alun-alun Pati. Rakyat berkerumun menyaksikan eksekusi itu. Setiap
regu tembak berhasil menuaikan tugasnya, rakyat bersorak-sorai.
Kemal Idris menceritakan hal ini dalam buku
biografinya, Bertarung Dalam Revolusi terbitan Sinar Harapan. Tapi ada
satu di antara gembong PKI itu ternyata kebal peluru. Berkali-kali coba
ditembak, tak sedikit pun orang itu terluka.
"Berkali-kali peluru diganti. Senjata
otomatis juga digunakan. Tapi tak ada yang mampu merobek kulitnya," kata
Kemal Idris.
Bule pun terheran-heran
Bule anggota pasukan Australia pun heran dan bingung dengan
peristiwa itu. Agaknya baru kali ini dia melihat orang sakti tahan peluru.
Di tengah
keheranan, Letnan Ahmad tiba-tiba maju menghampiri dan berbicara pada gembong
PKI itu.
"Di mana
teman-teman kamu?" kata Letnan Ahmad.
Gembong PKI
itu membisu.
"Kalau
tak bicara saya tembak!" ancam Letnan Ahmad.
Tawanan itu
balik menantang. "Tembak saja," katanya dengan tenang.
Letnan Ahmad
kemudian mengeluarkan peluru dari magasen pistolnya. Dia menggosok-gosokannya
ke tanah sebentar. Kemudian dimasukannya lagi ke magasen.
"Dor!"
pistol meletus. Gembong PKI itu langsung terpental dengan dada ditembus peluru.
Orang-orang
keheranan melihat peristiwa itu. Apalagi tentara Australia tadi.
Setelah
menguasai Pati, pasukan TNI terus bergerak membebaskan kota-kota yang dikuasai
PKI. Satu demi satu kota pun berhasil dikembalikan pada Republik
Indonesia.sumber:merdeka.com
