Kesehatan Jantung, Kesehatan Paru-Paru, Kesehatan Pencernaan, Gaya Hidup Sehat, Diet, Kecantikan, Pemutih Wajah, Otomotif, Sepeda Motor, Interior mobil, eksterior mobil, asesories otomotif, Smartphone, IOS,Asus Zenfone 4, Samsung galaxy J2, Evercoss A7V, Xiaomi Redmi 4, Sony Xperia Z2, assesories HP, laptop, printer, net book, notebook, Wisata Pantai, Wisata gunung, Matahari mall, TIRTO.ID, hosting,
Pada 1962, Presiden Sukarno
menandatangi surat keputusan hukuman mati terhadap pemimpin DI/TII Kartosuwiryo
yang melakukan pemberontakan di Jawa Barat. Ada kisah mengharukan sebelum Bung
Karno meneken surat hukuman mati untuk sahabatnya tersebut.
Eksekusi itu bahkan sempat tertunda selama tiga bulan karena
Bung Karno enggan menandatangani surat tersebut. Sebab, tanpa tanda tangan
Sukarno, hukuman mati terhadap Kartosuwiryo takkan pernah dilakukan.
Penulis Solichin Salam dalam bukunya, Soekarno-Hatta,
pernah bertanya kepada Bung Karno, “Apakah Bapak pernah menjatuhkan hukuman
mati terhadap seseorang?” Bung Karno menjawab, “Pernah. Itu pun hanya sekali
dan dengan hati yang berat.”
Yang dimaksudkan adalah ketika ia menandatangani surat keputusan
mati untuk Kartosuwiryo, saudara seperguruannya.
Pergolakan Batin Sukarno Teken Surat Eksekusi Mati
Sukarno
dan Kartosuwiryo adalah sahabat karib yang sama-sama pernah menimba ilmu kepada
HOS Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya, Jawa Timur. Mereka juga pernah
tinggal satu atap di rumah Tjokroaminoto dan saat tinggal di Bandung.
Kisah
eksekusi ini dimulai pada suatu pagi pada 1962. Saat itu, Mayjen S Parman,
asisten I menteri/ panglima Angkatan Darat (men/pangad), menghadap Presiden
Sukarno di Istana. Mayjen S Parman --yang kemudian pada 30 September 1965
dibunuh saat pemberontakan G30S PKI-- datang dengan membawa berkas dan surat
keputusan (SK) hukuman mati Kartosuwiryo untuk ditandatangani Bung Karno.
Namun,
Bung Karno meminta Mayjen S Parman kembali lagi setelah Maghrib. Sesudah shalat
dan berdoa, barulah Bung Karno menandatanganinya.
Eksekusi
kemudian dipercaya dilaksanakan di Pulau Onrust, salah satu pulau di kawasan
Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Namun, lokasi eksekusi Kartosuwiryo yang
selama 50 tahun dipercaya di Pulau Onrust ternyata keliru.
Makam Kartosuwiryo Dikeramatkan
Kartosuwiryo ternyata dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Ubi,
Kepulauan Seribu, pada 5 September 1962. Adalah sejarawan dan budayawan Fadli
Zon yang membuka misteri yang tersimpan rapi selama lima dekade tersebut.
Lewat buku Hari terakhir Kartosoewiryo: 81 Foto
Eksekusi mati Imam DI/TII, terungkap Kartosuwiryo dieksekusi
mati dan dikuburkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.
Buku foto ini merangkai perjalanan akhir sang imam. Mulai
makanan terakhir yang dimakan Kartosuwiryo, perjalanannya ke pulau, hingga
ditembak mati tentara, dan dishalatkan serta dimakamkan.
Ada yang menarik dari cerita eksekusi mati Kartosuwiryo di Pulau
Onrust. Di pulau tersebut, ada dua "makam keramat" yang dikelilingi
pagar bambu dan ubin keramik.
Di makam itu juga tertera tulisan, "Salah satu dari makam
itu adalah tokoh DI/TII yang dihukum mati oleh pemerintah."sumber:rol.co.id

