BENAR-BENAR KEPUTUSAN YANG BERAT....!!!!! Tangisan Soekarno Saat Eksekusi Sahabat Karib Yang Dihormati




Kesehatan Jantung, Kesehatan Paru-Paru, Kesehatan Pencernaan, Gaya Hidup Sehat, Diet, Kecantikan, Pemutih Wajah, Otomotif, Sepeda Motor, Interior mobil, eksterior mobil, asesories otomotif, Smartphone, IOS,Asus Zenfone 4, Samsung galaxy J2, Evercoss A7V, Xiaomi Redmi 4, Sony Xperia Z2, assesories HP, laptop, printer, net book, notebook, Wisata Pantai, Wisata gunung, Matahari mall, TIRTO.ID, hosting,
BENAR-BENAR KEPUTUSAN YANG BERAT....!!!!! Tangisan Soekarno Saat Eksekusi Sahabat Karib Yang Dihormati

Pada 1962, Presiden Sukarno menandatangi surat keputusan hukuman mati terhadap pemimpin DI/TII Kartosuwiryo yang melakukan pemberontakan di Jawa Barat. Ada kisah mengharukan sebelum Bung Karno meneken surat hukuman mati untuk sahabatnya tersebut.
Eksekusi itu bahkan sempat tertunda selama tiga bulan karena Bung Karno enggan menandatangani surat tersebut. Sebab, tanpa tanda tangan Sukarno, hukuman mati terhadap Kartosuwiryo takkan pernah dilakukan.
Penulis Solichin Salam dalam bukunya, Soekarno-Hatta, pernah bertanya kepada Bung Karno, “Apakah Bapak pernah menjatuhkan hukuman mati terhadap seseorang?” Bung Karno menjawab, “Pernah. Itu pun hanya sekali dan dengan hati yang berat.”
Yang dimaksudkan adalah ketika ia menandatangani surat keputusan mati untuk Kartosuwiryo, saudara seperguruannya.
Pergolakan Batin Sukarno Teken Surat Eksekusi Mati
Sukarno dan Kartosuwiryo adalah sahabat karib yang sama-sama pernah menimba ilmu kepada HOS Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya, Jawa Timur. Mereka juga pernah tinggal satu atap di rumah Tjokroaminoto dan saat tinggal di Bandung.
Kisah eksekusi ini dimulai pada suatu pagi pada 1962. Saat itu, Mayjen S Parman, asisten I menteri/ panglima Angkatan Darat (men/pangad), menghadap Presiden Sukarno di Istana. Mayjen S Parman --yang kemudian pada 30 September 1965 dibunuh saat pemberontakan G30S PKI-- datang dengan membawa berkas dan surat keputusan (SK) hukuman mati Kartosuwiryo untuk ditandatangani Bung Karno.
Namun, Bung Karno meminta Mayjen S Parman kembali lagi setelah Maghrib. Sesudah shalat dan berdoa, barulah Bung Karno menandatanganinya.
Eksekusi kemudian dipercaya dilaksanakan di Pulau Onrust, salah satu pulau di kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Namun, lokasi eksekusi Kartosuwiryo yang selama 50 tahun dipercaya di Pulau Onrust ternyata keliru.

Makam Kartosuwiryo Dikeramatkan

Kartosuwiryo ternyata dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, pada 5 September 1962. Adalah sejarawan dan budayawan Fadli Zon yang membuka misteri yang tersimpan rapi selama lima dekade tersebut. 
Lewat buku Hari terakhir Kartosoewiryo: 81 Foto Eksekusi mati Imam DI/TII, terungkap Kartosuwiryo dieksekusi mati dan dikuburkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.
Buku foto ini merangkai perjalanan akhir sang imam. Mulai makanan terakhir yang dimakan Kartosuwiryo, perjalanannya ke pulau, hingga ditembak mati tentara, dan dishalatkan serta dimakamkan.
Ada yang menarik dari cerita eksekusi mati Kartosuwiryo di Pulau Onrust. Di pulau tersebut, ada dua "makam keramat" yang dikelilingi pagar bambu dan ubin keramik.
Di makam itu juga tertera tulisan, "Salah satu dari makam itu adalah tokoh DI/TII yang dihukum mati oleh pemerintah."sumber:rol.co.id

Subscribe to receive free email updates:

Histats